No icon

Menolak BLT

Menolak, orang-orang ini tidak mau menerima Bantuan dari Pemerintah.

Pendemi Covid-19 yang terus berkepanjangan menimbulkan krisis ekonomi yang berkepanjangan,sebagian sektor usaha yang berhenti menyebabkan pekerja yang dirumahkan, dan produksi berhenti di semua sektor, sehingga pemerintah beupaya untuk melakukan pemberian bantuan-bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan, namun uniknya masih ada saja masyarakat yang tidak mau menerima Bantuan dengan beberapa alasan. Inilah beberapa warga yang menolak bantuan pemerintah :

1. Warga Lereng Merapi

Tiga keluarga penerima manfaat (KPM) di Lereng Gunung Merapi, Klaten mengundurkan diri dari Program Keluarga Harapan (PKH). Mereka mundur sebagai penerima bantuan sosial secara sukarela.

Sebagaimana dilansir detikcom, Kades keputran kemalang menyampaikan "Ada tiga KPM yang mundur dan sudah kami lakukan klarifikasi. Mereka mundur atas kesadaran sendiri,'

Wuryanto menjelaskan, tiga warga itu adalah Watini, Tumini dan Suryani. KPM yang berasal dari tiga RW yang berbeda itu mundur dengan alasan merasa masih ada warga lainnya yang berhak menerima bantuan itu.

"Jadi atas kesadaran sendiri. Saya atas nama pemerintah mengucapkan terima kasih dan mendoakan agar bisa sukses dan terkabul yang menjadi impian mereka," tuturnya.

Dari sisi usia, terang Wuryanto, tiga KPM itu masih termasuk usia produktif. Salah seorang di antaranya yakni Tumini (30) bekerja membantu keluarganya menjual buah di pasar dan masih punya anak usia sekolah.

"Padahal masih punya anak sekolah. Saya juga heran dan ternyata masih ada orang yang ikhlas dalam kondisi saat ini," sambung Wuryanto.

Saat diklarifikasi tim desa yang dipimpin Kades, Tumini mengaku ikhlas. Keputusan mundur karena dia merasa masih ada warga yang lebih membutuhkan bantuan.

"Maaf, Bapak. Bukan saya dan suami menolak bantuan pemerintah tapi saya merasa masih ada keluarga yang lebih membutuhkan," kata Tumini pada Wuryanto.

2. Banyumas

Sebanyak 12 warga Desa Sirau, Kecamatan Kemranjen, Kabupaten Banyumas, mengembalikan bantuan langsung tunai (BLT) senilai Rp 600 ribu per bulan, yang seharusnya diterima selama tiga bulan ke depan. Ke-12 warga ini merasa sudah mampu dan banyak warga yang lebih membutuhkan.

Ke-12 warga ini menyerahkan BLT tersebut secara simbolis ke Bupati Banyumas Achmad Husein di Pendopo Sipanji, Purwokerto, sore ini. Mereka diantar oleh kepala desa dan camatnya.

Kepala Desa Sirau, Mualiful Khasan mengatakan pengembalian BLT ini bermula dari instruksi bupati agar memantau para penerima BLT agar tidak ada yang salah sasaran. Setelah menyisir data, ditemukan ada warga lain yang lebih membutuhkan kemudian ke-12 warga ini tergerak untuk mengembalikan bantuan.

3.NTT

Videonya sempat viral di media sosial, salah seorang Ibu asal Kabupaten Alor, Nusa Tenggara TImur (NTT), memilih untuk tidak menerima bantuan dari pemerintah. Berdasarkan narasi dari video yang viral tersebut, tampak Ibu Salomi tidak mau menerima bantuan karena ingin berusaha sendiri.

sebagaiman dilansir kompascom ia menyampaikan "Saya usaha sendiri. Tuhan sudah kasih saya 10 jari dipakai untuk usaha. itu yang saya tidak ma, tidak ada alasan lain." ungkap Salomi.

Dok&foto: kompascom, detikcom

Salomi Malaka, seorang ibu asal Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT), menolak bantuan sembako dari pemerintah pusat. Dari video yang viral di media sosial, tampak Salomi kekeh tidak mau menerima bantuan karena ingin berusaha sendiri. "Saya harus usaha sendiri. Tuhan sudah kasih saya 10 jari dipakai untuk usaha. Itu yang saya tidak mau, tidak ada alasan lain," kata Salomi.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Tolak Sembako dari Pemerintah, Warga: Tuhan Kasih Saya 10 Jari untuk Berusaha", https://regional.kompas.com/read/2020/05/01/21391101/tolak-sembako-dari-pemerintah-warga-tuhan-kasih-saya-10-jari-untuk-berusaha?utm_source=Facebook.

Editor : David Oliver Purba

 

Comment